Pantai Setokok



LAPORAN KUNJUNGAN OBJEK WISATA

PANTAI SETOKOK BATAM KEPULAUAN RIAU


Disusun sebagai salah satu syarat
untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Ecotourisme
Program Studi S1 Manajemen Konsentrasi Pariwisata
Fakultas Ekonomi

Oleh:


JULIYA FIYANTI
NPM: 1541418
LIANA
NPM: 1541473



PROGRAM STUDI S-1 MANAJEMEN
KONSENTRASI PARIWISATA
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS INTERNASIONAL BATAM
BATAM
20
17



DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................ iii
DAFTAR TABEL................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang....................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan.................................................................................... 3
1.3 Manfaat Penulisan.................................................................................. 4
1.4 Teknik Pengumpulan Data..................................................................... 5
1.4.1 Metode Observasi........................................................................ 5
1.4.2 Metode Perpustakaan.................................................................. 5
1.4.3 Metode Wawancara..................................................................... 6

BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 7
2.1 Pengertian Ekowisata............................................................................. 7
2.1.1 Kriteria Ekowisata....................................................................... 7
2.1.2 Prinsip Ekowisata........................................................................ 10
2.1.3 Konsep Ekowisata....................................................................... 12
2.1.4 Faktor Penentu Keberhasilan Ekowisata..................................... 13
2.1.5 Ukuran Keberhasilan Ekowisata.................................................. 15
2.2 Pengertian Wisata Bahari....................................................................... 16
2.2.1 Kegiatan Wisata Bahari............................................................... 17
2.2.2 Potensi Wisata Bahari.................................................................. 18
2.2.3 Keunikan Wisata Bahari.............................................................. 19
2.3 Wisata Bahari Pantai Setokok Batam.................................................... 20
2.3.1 Keterlibatan Masyarakat.............................................................. 21
2.3.2 Konservasi................................................................................... 23
        2.3.2.1 Tujuan Konservasi............................................................ 23
        2.3.2.2 Manfaat Konservasi.......................................................... 24

BAB III PENUTUP............................................................................................... 29
3.1 Kesimpulan............................................................................................ 29
2.2 Saran...................................................................................................... 29

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


DAFTAR GAMBAR

 2.1 Konsep Ekowisata................................................................................. 12
 2.2 Kegiatan Wisata Bahari......................................................................... 17
 2.3 Pantai Setokok....................................................................................... 20
 2.4 Tiket masuk Pantai Setokok.................................................................. 22
 2.5 Warung makan di pantai Setokok.......................................................... 22
2.6 Gazebo................................................................................................... 23
2.7 Pohon Mangrove.................................................................................... 26
2.8 Rumput Laut.......................................................................................... 26




DAFTAR TABEL


2.1 Penilaian Potensi Wisata Pantai Setokok .............................................. 27

 


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Batam adalah sebuah kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil lainnya di kawasan Selat Singapura dan Selat Malaka. Pulau Batam, Rempang, dan Galang terkoneksi oleh Jembatan Barelang. Kota yang merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau ini memiliki luas wilayah daratan seluas 715 km² atau sekitar 115% dari wilayah Singapura, sedangkan luas wilayah keseluruhan mencapai 1.570.35 km². Secara geografis kota Batam berdekatan dengan dua negara tetangga, yaitu Singapura dan Malaysia. Letak geografis ini tentunya menjadi tantangan bagi kota Batam karena kota Batam selalu menjadi tujuan utama bagi investor asing yang ingin menanamkan modalnya di Provinsi Kepulauan Riau. Untuk menjawab tantangan tersebut, kota Batam giat meningkatkan fasilitas fisik (sarana dan prasarana) bagi investor asing. Pengelolaan sumber daya manusia dan sumber daya alam juga merupakan hal yang sangat penting dalam mendukung investasi asing ke kota Batam.
Pulau Batam dihuni pertama kali oleh orang melayu dengan sebutan orang selat sejak tahun 231 Masehi. Pulau yang pernah menjadi medan perjuangan Laksamana Hang Nadim dalam melawan penjajah ini digunakan oleh pemerintah pada dekade 1960-an sebagai basis logistik minyak bumi di Pulau Sambu. Kota Batam beriklim tropis dengan suhu rata-rata 26 sampai 34 derajat celsius. Kota ini memiliki dataran yang berbukit dan berlembah. Tanahnya berupa tanah merah yang kurang subur dan cuaca yang sering berubah sehingga untuk dijadikan lahan pertanian, hanya tanaman tertentu yang dapat tumbuh tanpa mengikuti musim. Masyarakat Kota Batam merupakan masyarakat heterogen yang terdiri dari beragam suku dan golongan. Suku yang dominan antara lain Melayu, Jawa, Batak, Minangkabau, dan Tionghoa. Kota Batam sebagai kota pariwisata, menyajikan aneka bentuk sarana wisata yaitu wisata laut dan pantai, wisata seni dan budaya, wisata belanja, wisata ekonomi dan konferensi, serta wisata kemanusiaan. Didukung oleh tersedianya fasilitas hotel, resort dan restoran dengan standar berkelas internasional, kota Batam diharapkan dapat menjamin kenyamanan dan kepuasan wisatawan domestik maupun mancanegara pada saat mereka berkunjung ke kota Batam.
Dunia pariwisata adalah dunia universal artinya siapapun akan menyatakan bahwa sama pariwisata itu adalah kebutuhan umat manusia diseluruh dunia. Seiring dengan meningkatnya kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa dalam ekonomi, maka muncullah sifat dasar manusia yaitu keinginan untuk melihat sisi lain dari dunia lain yang berbeda dengan keadaan sehari–hari dan sebagainya. Dari motivasi tersebut, timbullah niat untuk melakukan perjalanan wisata. Dengan melakukan perjalanan wisata, berarti untuk sementara seseorang akan meninggalkan rutinitas kehidupan sehari–hari dan tempat tinggal mereka. Perkembangan pariwisata yang semakin hari semakin maju dan berkembang menjadikan kebutuhan bagi wisatawan yang datang kesuatu daerah meningkat, sehingga diperlukan adanya pengelolaan yang sangat khusus baik itu dalam penyediaan layanan makanan dan minuman, transportasi, rekreasi, hiburan serta akomodasi tempat menginap (hotel). Batam dikenal sebagai kota industri dikarenakan banyak industri yang beroperasi disekitaran kawasan kota Batam. Namun selain dijuluki kota industri Batam juga memiliki tempat yang bisa dilakukan untuk berwisata. Salah satunya adalah Pantai Setokok yang terletak didaerah Barelang. Pantai ini terletak di Pulau Setokok, pulau di sebelah selatan Batam setelah Pulau Tonton dan pulau Nipah yang dihubungkan dengan jalan trans Barelang dan beberapa Jembatan Barelang (tepatnya setelah jembatan III Barelang).
Pantai Setokok merupakan satu bagian dari indahnya wisata pantai di Batam. Perlahan namun pasti, jalan menuju pantai sudah diperlebar dan mulus. Kita akan dengan mudah mencapai pantai kecil ini. Di bibir pantai, oleh warga juga dibangun pondok-pondok untuk bersantai, kecuali sebagian besar bibir pantai yang benar-benar berpasir Nan cantik. Bebatuan kecil mewarnai pantai yang jika ditarik garis lurus tidak lebih dari 60 meter panjangnya. Namun di ujung pantainya kita dapat menjumpai atau setidak-tidaknya berenang di air payau. Sungai yang mengalir ke laut berair tawar bersatu mengalir ke laut yang luas.

1.2     Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penyusunan laporan kunjungan ke objek wisata Pantai Setokok adalah:
1.      Untuk mengetahui daya tarik objek wisata serta perkembangan dan pengelolaan potensi objek wisata Pantai Setokok.
2.      Untuk mengetahui kondisi lingkungan, kerjasama antar pengelola, akses lokasi, hubungan kelokasi/jalur disekitarnya serta ketersediaan air bersih di objek wisata Pantai Setokok.
3.       Untuk mengetahui ketersediaan sarana dan prasarana, fasilitas pendukung, kondisi iklim serta pelayanan & perawatan objek wisata Pantai Setokok.
4.      Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan daerah kunjungan wisata serta konservasi alam yang bisa diterapkan diobjek wisata Pantai Setokok.

1.3     Manfaat Penulisan
Manfaat dalam penyusunan laporan kunjungan ke objek wisata Pantai Setokok adalah:
1.      Sebagai sumber masukan dan wawasan terhadap pengelolaan & dampak ekowisata di Pantai Setokok.
2.       Sebagai gambaran singkat mengenai objek wisata Pantai Setokok.
3.      Sebagai gambaran mengenai situasi dan kondisi di Pantai Setokok.
4.       Sebagai penilaian untuk pengembangan & pengelolaan objek wisata pantai Setokok.
5.      Sebagai acuan untuk menjadi bahan pengembangan objek wisata berbasis lingkungan & masyarakat serta kerjasama antar masyarakat, pemerintah & pengelola objek wisata.
6.      Untuk memberikan kesimpulan & saran mengenai objek wisata pantai Setokok.

1.4    Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data untuk penyusunan laporan kunjungan ke objek wisata Pantai Setokok adalah:
1.4.1 Metode Observasi
          Menurut Suharsimi Arikunto, observasi merupakan “suatu pengamatan langsung terhadap lingkungan fisiknya atau pengamatan langsung suatu aktifitas yang sedang berlangsung yang meliputi seluruh aktifitas perhatian terhadap suatu kajian objek dengan menggunakan alat indranya. Atau suatu usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sadar untuk mengumpulkan data dan dilakukannya dengan cara sistematis dan sesuai prosedurnya”. Observasi yang dilakukan penulis adalah dengan mengamati secara langsung bagaimana kondisi & aktifitas pengunjung di objek wisata Pantai Setokok.
1.4.2   Metode Perpustakaan
          Metode Perpustakaan merupakan metode pengumpulan data dengan mencari informasi lewat buku, majalah, koran dan literature lainnya yang bertujuan untuk membentuk landasan teori (Arikunto, 2006). Hal ini bertujuan untuk membahas topik dan penyelesaian masalah yang dialami.
1.4.3. Metode Wawancara
          Wawancara (komunikasi langsung dengan narasumber). Wawancara ini dilakukan dengan beberapa pengunjung, seperti: Ibu Aisyah, Ibu Rosa & Bapak Asep. Wawancara ini mengenai ketersediaan sarana, prasarana serta kondisi & pengelolaan objek wisata Pantai Setokok.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Pengertian Ekowisata
Definisi ekowisata yang pertama diperkenalkan oleh organisasi The Ecotourism Society (1990) sebagai berikut : " Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat ". Dari definisi tersebut maka kegiatan ekowisata lebih mengutamakan pada usaha-usaha dalam skala kecil dan menekankan pada kepentingan pelestarian lingkungan dan sosial masyarakat setempat. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan ekowisata adalah :
1.      Jumlah pengunjung terbatas atau diatur supaya sesuai dengan daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakat.
2.      Menerapkan pola wisata ramah lingkungan.
3.      Menerapkan pola wisata ramah budaya dan adat setempat.
4.      Memberikan dampak secara langsung terhadap peningkatan perekonomian masyarakat setempat.
5.      Tidak memerlukan modal yang besar untuk pembangunan infrastruktur pendukung.
2.1.1  Kriteria Ekowisata
Adapun kriteria yang perlu diperhatikan pada tahap perencanaan ini meliputi:
1.      Rencana pengembangan ekowisata harus mengacu pada rencana pengelolaan kawasan.
Rencana pengelolaan kawasan merupakan panduan tertulis pengelolaan habitat, kegiatan, peruntukan kawasan, pengorganisasian dan monitoring dalam rangka menjamin kelestarian fungsi kawasan. Pengembangan ekowisata yang merupakan salah satu kegiatan yang diperkenankan untuk dilakukan didalam kawasan taman nasional dan taman wisata alam, dengan demikian harus sesuai dengan rencana pengelolaan kawasan.
2.      Memperhatikan kondisi ekologi/lingkungan.
Yang harus diperhatikan adalah:
 a. Rona awal kondisi fisik, kimia, biologi dan wilayah yang akan dikembangkan menjadi obyek wisata.
 b. Perilaku satwa: ekowisata yang akan dikembangkan tidak akan merubah perilaku satwa.
c. Perencanaan sarana dan prasarana harus direncanakan dengan aturan alam setempat dan tidak memotong lintasan satwa/jalur satwa.
3.      Memperhatikan daya tarik, keunikan alam dan prospek pemasaran daya tarik tersebut.
Pengemasan produk dan pemilihan objek yang merupakan ciri khas dan daya tarik suatu wilayah pengembangan ekowisata harus terencana dengan baik dan variatif. Melakukan analisis potensi dan hambatan yang meliputi analisis terhadap potensi sumberdaya dan keunikan alam, analisis usaha, analisis dampak lingkungan, analisis ekonomi (cost & benefit), analisis sosial dan analisis pemanfaatan ruang.
4.      Memperhatikan kondisi sosial, budaya dan ekonomi.
Beberapa hal yang harus diperhatikan meliputi: Kegiatan ekowisata harus mampu memberdayakan masyarakat sekitar. Memperhatikan rona awal sosial, budaya dan ekonomi dari wilayah yang akan dikembangkan menjadi objek. Membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar. Merangsang/memotivator pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
5.      Tata Ruang
Yang harus diperhatikan: Kualitas daya dukung lingkungan kawasan tujuan melalui pelaksanaan sistem pemintakatan (zonasi). Perencanaan pembangunan wilayah setempat: ekowisata yang akan dikembangkan harus terintegrasi dengan pembangunan wilayah setempat.
6.      Menyusun action plan/rancang tindak terintegrasi atas dasar analisis yang telah dilakukan.
7.      Melakukan public hearing/konsultasi publik terhadap rencana yang akan dikembangkan.
2.1.2 Prinsip ekowisata
      Prinsip yang diterapkan meliputi:
1.      Keberlanjutan ekowisata dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.
Keberlanjutan ekowisata didukung oleh tiga aspek yang saling berkaitan yaitu aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sesuai dengan UU No. 10, 2009 tentang Kepariwisataan, kinerja pembangunan pariwisata seharusnya tidak hanya dievaluasi berdasarkan kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga atas kontribusnya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, pengurangan pengangguran dan kemiskinan, pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan, pengembangan budaya, perbaikan atas citra bangsa, cinta tanah air, identitas nasional dan kesatuan dan persahabatan internasional.
2.      Pengembangan institusi masyarakat lokal dan kemitraan.
      Aspek organisasi dan kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata juga menjadi isu kunci: pentingnya dukungan yang profesional dalam menguatkan organisasi lokal secara kontinyu, mendorong usaha yang mandiri dan menciptakan kemitraan yang adil dalam pengembangan ekowisata.
3.      Ekonomi berbasis masyarakat.
Salah satu penerapan ekonomi berbasis masyarakat adalah sistem akomodasi homestay. Pemilik rumah dapat merasakan secara langsung manfaat ekonomi dari kunjungan turis, dan distribusi manfaat di masyarakat lebih terjamin. Sistem homestay mempunyai nilai tinggi sebagai produk ekowisata di mana seorang turis mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai alam, budaya masyarakat dan kehidupan sehari-hari di lokasi tersebut. Pihak turis dan pihak tuan rumah bisa saling mengenal dan belajar satu sama lain, dan dengan itu dapat menumbuhkan toleransi dan pemahaman yang lebih baik. Homestay sesuai dengan tradisi keramahan orang Indonesia.
4.      Edukasi.
Edukasi dalam kegiatan ekowisata dilakukan dengan memperkenalkan kepada wisatawan tentang pentingnya perlindungan alam dan penghargaan terhadap kebudayaan lokal. Pusat Informasi wisata menjadi hal yang penting dan dapat juga dijadikan pusat kegiatan dengan tujuan meningkatkan nilai dari pengalaman seorang turis yang bisa memperoleh informasi yang lengkap tentang lokasi atau kawasan dari segi budaya, sejarah, alam, dan menyaksikan pentas seni, kerajinan dan produk budaya lainnya.
5.      Pengembangan dan penerapan site plan dan pengelolaan lokasi ekowisata.
Daya dukung (carrying capacity) lokasi wisata perlu diperhatikan sebelum perkembangannya ekowisata berdampak negatif  terhadap alam dan budaya setempat. Aspek dari daya dukung yang perlu dipertimbangkan adalah: jumlah turis/tahun, lamanya kunjungan turis dan berapa sering lokasi yang “rentan” secara ekologis boleh dikunjungi. Zonasi kawasan wisata dan pengelolaannya adalah salah satu pendekatan yang bisa menjaga nilai konservasi dan keberlanjutan kawasan ekowisata.
Kelima prinsip pengembangan ekowisata akan bisa diterapkan , apabila ada sinergi antar stake holder yang terlibat, baik dari pihak pemerintah, pihak pengelola ekowisata, wisatawan dan tentunya masyarakat lokal di sekitar kawasan ekowisata.
2.1.3  Konsep Ekowisata
Gambar 2.1
Konsep Ekowisata



Sumber: https://www.slideshare.net/syaifulforester/ekowisata-4652
Konsep yang harus dilakukan untuk mengembangkan ekowisata, antara lain sebagai berikut:
1.      Prinsip Konservasi (dalam pembangunan ekowisata haruslah menganut prinsip koservasi hal ini dilakukan guna memelihara, melindungi, serta berkontribusi untuk memperbaiki sumberdaya alam).
2.      Prinsip Partisipasi Masyarakat (pengembangan atau pembangunan ekowisata harus didasarkan atas musyawarah dan juga persetujuan yang ada dalam masyarakat. Tidak boleh ada bentuk kesewenang-wenangan, baik dari pemerintah atau perusahaan swasta).
3.      Prinsip Ekonomi (pembangunan atau pengembangan ekowisata harus mampu memberikan dampak perekonomian, terutama dampak perekonomian tersebut terasa oleh masyarakat di lingkungan sekitar).
2.1.4  Faktor Penentu Keberhasilan Ekowisata
            Keberhasilan pelaksanaan wisata alam yang berbasis ekowisata dipengaruhi oleh 5 (lima) faktor utama, yaitu :
1.      Objek wisata → Objek wisata bisa diartikan sebagai sesuatu yang memiliki daya tarik dan mengundang orang untuk datang, punya nilai dan biasa disebut atraksi. Faktor ini adalah bahan jualan dalam kegiatan pasar kepariwisataan.
2.      Penikmat wisata → Penikmat wisata adalah orang-orang yang sengaja melakukan perjalanan ke tempat tempat tertentu guna menikmati setiap daya tarik keindahan dan gejala gejala alam yang menarik. Dalam struktur pasar, faktor ini bisa diasumsikan pembeli. 
3.      Penyedia/pengelola wisata → Setiap penyedia atau pengelola wisata secara tidak langsung terkategori sebagai penjual. Faktor ini harus memahami dengan jelas bahwa penataan areal wisata seperti pembangunan sarana & prasarana wisata tidak boleh mengabaikan faktor ekologi. Demi memperoleh uang tiket dari pengunjung sebanyak-banyaknya, kerapkali pengusaha dan pemerintah setempat berpikir pendek dalam pengembangan pariwisata. Misalnya, daerah hutan disulap menjadi penginapan dan menghilangkan sifat alamiah objek tersebut.
4.      Masyarakat lokal → Pengembangan kegiatan wisata dengan konsep ekowisata tidak menghilangkan dan membatasi ruang bagi masyarakat untuk ikut terlibat langsung dalam pengelolaan kegiatan dimaksud. Masyarakat diharapkan berada pada ruang yang sama dengan para pemegang kepentingan, bahkan dalam beberapa aspek tertentu, masyarakat bisa menjadi pihak pengelola wisata. Misalnya, penyediaan penginapan, jasa pemandu wisata dan lain sebagainya. Pada beberapa lokasi, pengelolaan objek wisata alam sudah menerapkan konsep ekowisata berbasis komunitas (community-based ecotourism) yang mengedepankan peran utama masyarakat didalamnya.
5.      Perangkat hukum/kearifan lokal Manusia adalah makhluk yang dinamis, bisa berubah pada saat kapanpun dengan sangat tidak terduga. Pelaku wisata yang terdiri dari penikmat wisata, penyedia/pengelola wisata dan masyarakat lokal adalah manusia dengan kecenderungan seperti itu. Sehingga, proses pengembangan wisata bisa saja bergeser dengan dari standar ekowisata. Keberadaan perangkat hukum dan kearifan lokal baik secara tertulis maupun tidak tertulis setidaknya bisa mengantisipasi efek negatif dari keadaan demikian.
2.1.5  Ukuran Keberhasilan Ekowisata
Keberhasilan penerapan konsep ekowisata dalam pelaksanaan wisata alam dapat diukur melalui kegiatan evaluasi yang bisa dilakukan secara kontinyu. Setidaknya ada tiga kriteria yang bisa dijadikan ukuran keberhasilan ekowisata, yaitu :
1.      Ancaman terhadap kekayaan sumber daya alam menurun.
Ada perbedaan signifikan antara gangguan pada kekayaan sumber daya alam sebelum dan sesudah penerapan konsep ekowisata pada cara menikmati objek wisata alam. Gangguan terhadap sumber daya alam cenderung menurun seiring meningkatnya kesadaran semua pihak.
2.      Adanya income generating untuk kegiatan konservasi.
Baik hasil Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari kegiatan eksplorasi wisata maupun pungutan lain yang tidak tercatat sebagai pajak, sebagian bisa dikembalikan ke alam dalam bentuk pembiayaan pada beberapa kegiatan restrukturisasi alam.
3.      Ada keuntungan riil yang dirasakan masyarakat.
Masyarakat Indonesia adalah komunitas yang terbiasa mengukur keberhasilan suatu program atau ajakan pada satu konsep dengan nilai cost riil yang bisa didapatkan. Dengan ekowisata, masyarakat diharapkan secepat mungkin merasakan pertambahan nilai ekonomis (economical benefit) yang bisa mendukung pencapaian kesejahteraan masyarakat. Contoh ; Masyarakat ikut berperan aktif dalam penjualan souvenir, jasa pemanduan wisata, penginapan lokal, warung makanan dan sebagainya. Eksplorasi keindahan alam melalui wisata alam yang menggunakan konsep ekowisata seyogyanya tidak akan merusak keberadaan setiap gejala dan daya tarik alam selama semua orang paham konsep ekowisata yang sebenarnya. Tanpa penjelasan secara harfiah pun, konsep ekowisata tanpa disadari akan diterapkan semua orang karena ada aspek manfaat jelas yang dirasakan.
2.2  Pengertian Wisata Bahari
   Wisata Bahari adalah suatu kegiatan untuk menghabiskan waktu dengan menikmati keindahan dan keunikan wilayah di sepanjang pesisir pantai dan juga lautan. Secara singkat, Wisata Bahari adalah sebuah rekreasi di pantai atau lautan.

2.2.1 Kegiatan Wisata Bahari
Gambar 2.2
Kegiatan wisata bahari



             Berikut ini adalah beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di laut dan pantai:
1.    Menjelajahi dan menikmati keindahan alam bawah laut yang sangat menakjubkan. Terdapat banyak sekali biota laut dan juga batu karang yang sangat indah di dasar lautan. Dengan menjelajahi dasar lautan, kita bisa menikmati keindahan tersebut sekaligus mempelajari banyak hal baru. Kegiatan menjelajahi alam bawah laut sering disebut dengan Sea Walker yang berarti menjelajahi lautan. Kegiatan menjelajahi ini biasanya sering dilakukan disekitar pantai atau perairan dangkal.
2.    Diving dan juga snorkeling. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan peralatan menyelam. Tujuan kegiatan ini selain untuk rekreasi juga sebagai sarana untuk mempelajari keragaman kehidupan yang ada di lautan.
3.    Olahraga air. Jenis kegiatan seperti speedboat, berselancar dan Mengayuh perahu masuk dalam kategori ini.
4.    Menikmati hasil laut. Bagi yang gemar menikmati ikan, jenis kegiatan ini pasti tak akan pernah terlewatkan. Menikmati hasil laut yang didapat secara langsung dari lautan tentu memiliki cita rasa yang berbeda.
5.    Ekowisata bahari atau yang lebih dikenal dengan kegiatan konservasi bertujuan memberikan pengetahuan pada wisatawan untuk menjaga ekosistem pantai dan laut dari kerusakan.
2.2.2 Potensi Wisata Bahari
   Wisata Bahari memiliki banyak sekali potensi. Berikut ini adalah beberapa potensi tersebut:
1.      Meningkatkan ekonomi. Jenis wisata kelautan akan memiliki dampak secara langsung pada warga masyarakat di sekitar pantai dan lautan. Warga sekitar bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari menawarkan jasa maupun produk kepada wisatawan. Adapun sektor ekonomi juga akan bergerak ke arah positif seiring dengan semakin cepatnya perputaran uang dan jasa di suatu wilayah.
2.       Meningkatkan pendapatan daerah. Pendapatan daerah dari sektor wisata akan  naik secara signifikan.
3.      Sarana konservasi. Setiap wisatawan bisa mengetahui beragam hal yang berkaitan dengan dunia kelautan dan diharapkan hal tersebut bisa menambah kesadaran untuk menjaga kelestarian alam.
4.      Sarana pendidikan. Tiada hal yang lebih baik dari belajar secara langsung dengan melihat dan mengetahui objek yang sedang dipelajari. Dengan melakukan kegiatan rekreasi bahari setiap wisatawan akan mendapatkan pengetahuan mengenai banyak hal yang berkaitan dengan kelautan.
2.2.3 Keunikan Wisata Bahari
            Berikut ini adalah keunikan jenis wisata ini yang membedakannya dengan wisata yang lain:
1.      Terdapat banyak hal baru yang bisa dipelajari. Saat kita berjalan di sekitar pantai, kita akan menjumpai banyak hal baru yang bahkan mungkin tidak pernah kita jumpai sebelumnya. Begitu juga saat kita menjelajahi lautan. Akan terdapat begitu banyak hal yang bisa diketahui dari kegiatan tersebut.
2.      Lokasi cukup sejuk dan lapang. Jenis pariwisata kelautan pada umumnya memiliki lokasi yang sangat luas serta terdapat hembusan angin yang cukup sejuk untuk dirasakan.
3.      Menikmati keindahan matahari yang muncul dan tenggelam di lautan. Menikmati pesona matahari yang muncul saat fajar menyingsing serta saat tenggelam di waktu senja terasa sangat luar biasa.
4.      Pengunjung bisa menikmati ikan hasil tangkapannya dari laut. Pada jenis wisata lain, hal ini tentu saja tidak bisa dilakukan.



2.3 Wisata Bahari Pantai Setokok Batam
Gambar 2.3
Pantai Setokok





   Pantai Setokok merupakan salah satu  pantai yang terletak di Batam, Kepulauan Riau. Pantai Setokok dapat ditempuh kurang dari satu jam dari Batam Center. Pantai ini berada di Pulau Setokok, sebuah pulau kecil setelah Pulau Nipah yang dihubungkan dengan Jembatan Barelang III. Pantai Setokok memiliki pemandangan alam yang sangat indah, pasir kecoklatan dan air laut yang jernih. Pohon-pohon bakau di pinggir pantai juga memberikan keindahan tersendiri di pantai ini.
Lokasi                                :  Pulau Setokok (setelah melewati Jembatan III Barelang )
Jam operasional      : Setiap hari, dari  jam 07.00 WIB – 18.00 WIB
Biaya masuk           :   Rp. 10.000/orang: dewasa  (motor/mobil), anak-anak
                                   dibawah 6 th gratis.
Fasilitas                 : toilet, warung, mushola, gazebo, ayunan.
Akses kelokasi       : dengan menggunakan kendaraan pribadi (motor/mobil),
                                               contoh jika dari Batam Center (waktu tempuh tidak sampai satu jam perjalanan) bisa melewati jalan   Sekupang – Batu Aji – Barelang ataupun dari Kepri Mall – Mukakuning – Batu Aji – Barelang.
Keterangan             : karena warung hanya buka saat akhir pekan, maka sebaiknya pengunjung membawa makanan, camilan, minuman, dll dari rumah atau membelinya terlebih dahulu.
2.3.1 Keterlibatan masyarakat
  Masyarakat atau penduduk setempat di kawasan Pantai Setokok ini atau lebih tepatnya di Jembatan III Barelang ikut berpatisipasi untuk berupaya mengembangkan Pantai Setokok ini agar lebih membuat wisatawan semakin tertarik untuk datang berkunjung ke pantai ini. Salah satu contoh  bahwa masyarakat ikut serta dalam  pengembangan pantai ini ialah sebagai berikut:
1.      Masyarakat ikut serta dalam  menjaga kedatangan tamu dan setiap tamu yang datang wajib membayar tiket masuk senilai Rp 10.000 per orang. Mereka selalu stand by menjaga mulai dari jam 07.00 WIB pagi hingga jam 18.00 WIB sore hingga mata hari terbenam,  maka jika sudah jam 18.00 WIB wisatawan yang berkunjung segera meninggalkan lokasi.




Gambar 2.4
Tiket masuk Pantai Setokok










Sumber : Dokumentasi Penulis, 2017

2.      Masyarakat ikut serta dalam  mengembangkan pantai ini seperti menyediakan warung makan sebagai suatu fasilitas pendukung untuk wisatawan yang datang berkunjung. Ini merupakan sebuah upaya agar Pantai Setokok ini dapat berkembang dengan adanya fasilitas ini. Adapun menu yang disediakan yaitu: kelapa muda, pop mie, mie rebus, mie goreng, makanan ringan, dan juga lainnya.
Gambar 2.5
Warung makan di Pantai Setokok




Sumber : Dokumentasi Penulis, 2017

3.      Masyarakat juga ikut serta dalam mengembangkan pantai ini dengan membangun gazebo atau disebut juga dengan pondok kecil yang disediakan untuk para wisatawan duduk bersantai. Dengan adanya fasilitas ini Pantai Setokok menjadi lebih indah karena mempunyai sederetan gazebo di tepi pantai.
Gambar 2.6
Gazebo










Sumber: Dokumentasi Penulis, 2017

2.3.2 Konservasi
  Konservasi adalah upaya-upaya pelestarian lingkungan akan tetapi tetap memperhatikan manfaat yang bisa didapatkan pada saat itu dengan cara tetap mempertahankan keberadaan setiap komponen-komponen lingkungan untuk pemanfaatan di masa yang akan datang. Atau konservasi adalah suatu  upaya yang dilakukan oleh manusia untuk dapat melestarikan alam, konservasi bisa juga disebut dengan pelestarian ataupun perlindungan. Jika secara harfiah konservasi berasal dari bahasa Inggris yaitu dari kata “Conservation” yang berarti pelestarian atau perlindungan.
2.3.2.1 Tujuan konservasi
            Adapun beberapa tujuan konservasi, yang diantaranya sebagai berikut ini:
1.      Untuk memelihara maupun melindungi tempat-tempat yang dianggap berharga supaya tidak hancur, berubah atau punah.
2.      Untuk menekankan kembali pada pemakaian bangunan lama supaya tidak terlantar, disini maksudnya apakah dengan cara menghidupkan kembali fungsi yang sebelumnya dari bangunan tersebut atau mengganti fungsi lama dengan fungsi baru yang memang diperlukan.
3.      Untuk melindungi benda-benda sejarah atau benda jaman purbakala dari kehancuran atau kerusakan yang diakibatkan oleh faktor alam, mikro organisme dan kimiawi.
4.      Untuk melindungi benda-benda cagar alam yang dilakukan secara langsung yaitu dengan cara membersihkan, memelihara dan memperbaiki baik itu secara fisik maupun secara langsung dari pengarauh berbagai macam faktor, misalnya seperti faktor lingkungan yang bisa merusak benda-benda tersebut.
2.3.2.2 Manfaat Konservasi
   Manfaat dari kawasan konservasi terhadap ekosistem, yang diantaranya sebagai berikut ini:
1.      Untuk melindungi kekayaan ekosistem alam dan memelihara proses–proses ekologi maupun keseimbangan ekosistem secara berkelanjutan.
2.      Untuk melindungi spesies flora dan fauna yang langka atau hampir punah.
3.      Untuk melindungi ekosistem yang indah, menarik dan juga unik.
4.      Untuk melindungi ekosistem dari kerusakan yang disebabkan oleh faktor alam, mikro organisme dan lain-lain.
5.      Untuk menjaga kualitas lingkungan supaya tetap terjaga, dan lain sebagainya.
Jika dari segi ekonomi:
1.      Untuk mencegah kerugian yang diakibatkan oleh sistem penyangga kehidupan misalnya kerusakan pada hutan lindung, daerah aliran sungai dan lain-lain. Kerusakan pada lingkungan akan menimbulkan bencana dan otomatis akan mengakibatkan kerugian.
2.      Untuk mencegah kerugian yang diakibatkan hilangnya sumber genetika yang terkandung pada flora yang mengembangkan bahan pangan dan bahan untuk obat-obatan.
Konservasi yang di lakukan di kawasan Pantai Setokok ini yaitu:
1.      Adanya pohon mangrove yaitu suatu pohon yang tumbuh diatas rawa-rawa perairan, pohon ini letaknya pada garis pantai dan dipengaruhi oleh keadaan pasang surut air laut, salah satu peran dan manfaat dari pohon mangrove yaitu terdapatnya sistem pada perakaran tanaman bakau yang kompleks, rapat dan lebat yang dapat memerangkap sisa-sisa dari bahan-bahan organik serta endapan yang terbawa oleh air laut dari daratan. Proses ini dapat menyebabkan air laut terjaga akan kejernihan dan kebersihannya, dengan demikian dapat memelihara terumbu karang karena proses ini sering sekali disebut dengan pembentuk daratan sebab endapan dan tanah yang ditahannya akan menumbuhkan kembali garis pantai. Keadaan yang terjadi banyak pohon mangrove yang hanya ada dalam jumlah sedikit didaerah pantai sehingga diharuskan adanya penanaman kembali pohon mangrove agar dapat menjaga kelestarian alam disekitar pantai Setokok.

Gambar 2.7
Pohon mangrove





Sumber: Dokumentasi Penulis, 2017
2.      Pembudidayaan rumput laut yang terdapat disekitaran pantai Setokok. Untuk pemanfaatan sendiri ada sebagian masyarakat atau pengunjung yang memanfaatkan rumput laut untuk dibawa pulang, diolah menjadi agar-agar ataupun masker.
Gambar 2.8
Rumput Laut




Sumber: Dokumentasi Penulis, 2017
3.      Penempatan tempat sampah & himbauan maupun spanduk agar tidak membuang sampah sembarangan ke laut/pantai. Hal ini dimaksudkan agar wisatawan yang datang dapat menjaga kelestarian pantai karena jika sampah yang sulit terurai dibuang ke pantai atau laut maka akan mengganggu ekosistem didaerah pantai. Dipantai ini banyak biota laut yang tersedia seperti ikan, kepiting, siput, rumput laut & biota laut lain sehingga jika ada wisatawan yang datang dan ingin memancing atau membawa dalam jumlah banyak tidak diizinkan dikarenakan itu merupakan sumberdaya alam khususnya diwilayah perairan yang harus  dijaga kelestariannya. Jika tidak maka akan menyebabkan kerusakan bagi ekosistem & spesies yang ada dipantai Setokok.
2.3.3        Hasil Temuan Lapangan
Tabel 2.1 Penilaian Potensi Wisata Pantai Setokok
No
Kriteria
Nilai
Kualitatif
Kuantitatif
1
Daya tarik obyek wisata
B
3
2
Potensi pasar
A
4
3
Perhubungan
B
3
4
Kondisi lingkungan
A
4
5
Pengelolaan, perawatan dan pelayanan
B
3
6
Kondisi Iklim
B
3
7
Akomodasi penunjang
C
2
8
Sarana dan prasarana penunjang
B
3
9
Ketersediaan air bersih
B
3
10
Hubungan dengan objek wisata lain
B
3
Rata-rata
A
3,1







                        Jangkauan Penilaian: A = 3,1 ; B = 2,1 – 3 ; C = 1,1 -2 ; D = > 1
Jadi, menurut hasil diatas, wisata bahari pantai Setokok merupakan salah satu pantai yang bagus yang diminati para wisatawan, selain pantainya yang bagus disini juga terdapat fasilitas-fasilitas yang cukup memadai seperti toilet, gazebo dan beberapa warung yang menyediakan beberapa makanan ringan dan juga makanan yang bisa mengenyangkan perut walaupun jumlah warung tersebut dalam jumlah sedikit, dan saran bagi masyarakat untuk bekerjasama dengan pemerintah dalam hal pengelolaan Pantai Setokok serta lebih menjaga kebersihan lingkungan dan keindahan pantai Setokok ini agar kedepannya semakin banyak wisatawan yang tertarik untuk berkunjung & berwisata ke Pantai Setokok. 

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Ekowisata adalah bentuk wisata yang memanfaatkan alam sebagai tempat rekreasi, sehingga ekowisata harus perpegang teguh untuk menjaga kelestarian alam tanpa merusaknya sehingga hal ini dapat memberi dampak secara ekonomi dan budava. Wisata Bahari adalah suatu kegiatan untuk menghabiskan waktu dengan menikmati keindahan dan keunikan wilayah di sepanjang pesisir pantai dan juga lautan. Secara singkat, Wisata Bahari adalah sebuah rekreasi di pantai atau lautan.
Pantai Setokok merupakan salah satu  pantai yang terletak di Batam, Kepulauan Riau. Pantai Setokok dapat ditempuh kurang dari satu jam dari Batam Center. Pantai ini berada di Pulau Setokok, sebuah pulau kecil setelah Pulau Nipah yang dihubungkan dengan Jembatan Barelang III. Pantai Setokok memiliki pemandangan alam yang sangat indah, pasir kecoklatan dan air laut yang jernih. Pohon-pohon bakau di pinggir pantai juga memberikan keindahan tersendiri di pantai ini.
3.2 SARAN
            Sebagai upaya untuk perkembangan Kota Batam ini sebaiknya Pemerintah kota Batam dapat lebih memperhatikan lagi tentang Pariwisata yang ada, karena Kota Batam memiliki sangat banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan dan dapat menarik para wisatawan lokal maupun mancanegara. Jika Batam memiliki wisata yang bagus dan terjaga maka ini akan menjadi suatu keuntungan bagi Kota Batam dan seluruh masyarakat yang berada di Batam. Untuk perkembangan Pantai Setokok sebaiknya masyarakat ikut berpatisipasi bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan, berpartisipasi dalam mengembangkan fasilitas-fasilitas yang belum ada contohnya seperti, banana boad atau permainan yang memungkinkan bagi para wisatawan untuk menikmatinya. Dan juga untuk fasilitas toilet yang ada di Pantai tersebut, sebaiknya kebersihannya lebih di perhatikan lagi seperti ketersediaan air bersih, dan juga lingkungan di dalam toilet tersebut. Masyarakat melakukan kerjasama dengan pemerintah untuk pengelolaan pantai Setokok, misalnya adanya akomodasi penginapan bagi wisatawan yang ingin menginap & bermalam di Pantai Setokok.


DAFTAR PUSTAKA
http://www.indonesiastudent.com/pengertian-ekowisata-konsep-dan-contohnya/
Pantai Setokok, Batam, 2017

Check this out for video, enjoy for your wachting :)





Pantai Setokok Batam Kepulauan Riau

Komentar